Hujan oh, hujan

Aku kangen musim hujan, tahun lalu ketika aku masih di kelas 10 hujan turun hampir 70% dalam satu tahun pendidikan, mulai dari september sampai kisaran april (pokoknya waktu CIS masih ada hujan). Otomatis banyak rekaman tentang hujan dalam tahun itu, ok akan aku uraikan beberapa:

  • Ulangan Matematika. Siang itu seharusnya ulangan matematika, kebetulan juga itu hari terakhir Bu Kawiyah mengajar di kelas kami, karena beliau dipindah tugaskan ke SMA 2, hiks, tunggu dulu, bukan ini pokok permasalahannya. Seperti yang sudah aku tulis di awal uraian “ulangan” ya itu masalah terbesar hari itu, pas pelajaran terakhir pula, Pak Budi dan Bu Kawiyah masuk kelas dengan santai diikuti teriakan histeris para siswa yang seperti melihat sesosok hantu, aku juga tidak tahu pokoknya aku ikut teriak. Kertas soal putih dirantingkan kebelakang, Komang yang berada di depanku tampak tegang, meysa dan novel yang menerima paket soal yang sama nampak kikuk, Occa masih terlihat santai, Thya dan Ratih tak usah dibayangkan muka kecut mereka berdua. Srett, soal aku baca dan tadaaa…! soal trigonometri level tinggi karya Pak Budi pun terpampang. Ya tuhan apa salah kami, dan tuhan pun menjawab ratapan sendu kami semua yang sedari tadi komat-kamit merapalkan mantra trigonometri, “wisssh…” angin mulai bertiup kencang, daun-daun berguguran, atap parkiran berderik dan hujan sangat amat dreras turun bisa diibaratkan kayak hujan anjing dan kucing, kami sekelas bertambah gugup, akupun begitu iyasih aku hampir selesai tapi tetep aja ga tenang, hingga dari belakang ada yang teriak “Pak trocoh”, Pak Budi lalu memberi instruksi untuk berpindah dan menggeser meja serta tetap berdoa dan mengerjakan ulangnnya, hingga beberapa lama hujan tak kunjung berhenti bahkan semakin mengamuk, separuh kelas sudah basah, akhirnya Pak Budi memberi toleransi dan membatalkan ujian karena hujahn! Ciehhh, doa kami terkabul, sekali lagi kami histeris. 
  • Ulang Tahun Simbah. Siang itu Si Simbah aka Novia Permatasari ulang tahun, ciehh selamat ya mbah, kami makan-makan ke kantin dulu, eh pas jalan ke depan tiba-tiba hujan dateng, gedung induk pun menjadi tempat perlindungan sementara kami! Karena bosen nunggu dibawah, aku naik ke lantai 2 dan melihat pemandangan luar biasa dari jendela yang terbuka, air hujan yang mengalir turun kebawah seperti air terjun, tak mau melikmati keindahan itu sendiri aku kembali turun dan memanggil teman-temanku yang sudah memasang muka bego’, habis itu kami naik dan teriak-teriak kayak orang udik sambil nggapai-nggapai tetesan air yang jatuh. Dari atas kita liat kejadian lucu, kaka kelas malah main bola di bawah hujan sambil semprot-semprotan air, ya, bakal nyenengin bangetkan ngehabisin tahun terakhir di SMA dengan kenangan yang manis pula, kapan lagi bisa puas main sebagai siswa, habis luluskan mereka juga bakal pisah-pisah.

  • Tugas Hari Raya. Libur lebaran…! yeee, dapat THR pula, tapi THRnya bukan uang atau bingkisan dan tetekbengek lainnya gitu, THR kami adalah TUGAS HARI RAYA  , isinya tuh logaritma sama akar pangkat, itu adalah pasangan kembar yang sangat menggelikan dan menyebalkan, aku dan teman-temanku lalu mengelus dada dan mencoba menerima keadaan. Hingga beberapa hari aku masih saja berkutat dan akhirnya Rusyda mengirim pesan yang intinya mengajak belajar kelompok yang akan dibimbing oleh Mas Dani. Karena aku sudah putus asa aku menerima ajakannya. Hari demi haripun berlalu dan hari untuk belajar kelompok itupun datang, yang datang sih cuma sedikit, seingatku ada aku, Occa, Dicky, Benny, Rusyda dan Mas Dani (jangan pernah berpikiran kalo ini triple date), setelah mengerjakan beberapa soal yang belum aku bisa, aku mulai bosan, begitu juga dengan Dicky, Occa dan Benny, pembicaraan mulai dari piano ampe keangkeran SMA 7 pun jadi menu lezat, hanya Rusyda yang masih terpaku pada soal dan pembimbingnya :p , beberapa waktu kemudian aku kebelet pipis dan bingung nyari wc yang ga perlu kena hujan, maklum aja SMA 7 bentuknya kepisah-pisah, aku pun dianter Occa, ga mungkin juga kan kalo yang nganter itu Dicky, Benny apalagi Mas Dani. Setelah plong, aku sama Occa bukannya langsung balik ke musholla tapi mlipir dulu, kita duduk-duduk di depan kelas IPS 5 dan ngomong ngalor-ngidul, tepatnya bergossip ria dibawah rinai hujan, lama-lama kita ngerasa parno duduk sendiri, sepi lagi, jadi keinget setting tempat dan waktu pada film “Ada Hantu Di Sekolah” hiiii, sempet bingung gimana mau balik lagi ke musholla, karena seperti yang udah aku bilang di atas, bentuk SMA 7 itu kepisah-pisah, maklum aja, bekas rumah sakit. Kita sempet celingukan, bingun mau ambil langkah kemana, mau lurus ke keahwatan, tapi kok hujannya deres banget, atau lewat lorong tengah terus mlipir ke serambi ruang guru baru lewat depan kelas agama + bahasa biar ga kehujanan masuk keahwatannya tapi kok ya serem jalannya muter lagi. Akhirnya setelah menimbang dan menimang pilihan sulit itu, aku sama Occa mending senam jantung lewat lorong tengah (biar rambut kita ga basah sih alasan utamanya), dengan setengah terbirit-birit setengah histeris, kita lewati lorong tengah, abis itu mlipir ke serambi ruang guru, nyaris kepleset, lanjut ke barisan kelas bahasa+agama, akhirnya bisa mbobol keahwatan yang langsung tembus serambi musholla di mana yang lain sedang belajar (ngoss, aku ma Occa seneng banget waktu itu bisa selamat dari ketakutan kita sendiri). Ternyata si Dicky ama Benny lagi sibuk nyari sendal yang hanyut, kepaksa mereka kehujanan deh. Setelah dirasa cukup aku dan Occa pulang dulu, kita nunggu jemputan di depan eh malah ada orang pacaran, gimana lagi, keganggu sih, tapi ya sudahlah kita gossip lagi.

  • Drama, umhh, inilah perjuangan berat kami, tidak peduli hujan atau panas atau angin atau apalah. Hujan airmata, gelak tawa, banting tulang, gebrak meja, mandi keringat, ya begitulah, pengorbanan kami semua, waktu, uang, les, keluarga, persahabatan, teman, musuh, pacar, mantan, semua melebur jadi satu. Hampir tiap hari kita habisin bersama hanya demi sebuah pementasan untuk tugas bahasa indonesia. Pernah suatu hari yang panas, kita mutusin buat latihan di lapangan basket, padahal siang itu hujan rintik-rintik, padahal matahari masih bersinar. Kita tetep latihan meski hujan tetep ga mau berenti, bener-bener kayak ospeklah. Pernah kita pulang kesorean gara-gara kejebak hujan, ya tepatnya pas hari kartini (berhubung besok pagi digunakan untuk gladi bersih), aku masih inget, aku masih make konde sama baju kebaya si komang, oh iya padahal pas pemilihan dimas-diajeng suasana panas terik lho. kita bahu membahu bikin pohon buat settingan taman. Yang kasihan tuh pas lihat si Ridwan, sebagai wakil ketua produksi dia merasa bertanggung jawab dan rela membeli peralatan walau hujan, walhasil sesampainya di sekolah dia udah kayak anak ayam kecemplung got. Uhhh sebel banget tauk, udah hujannya ga reda-reda lagi. tiba-tiba “Duarrrr” ada petir menyambar di langit, semua orang teriak lalu suasana tegang pun segera terbangun dengan sempurna. Huh, akhirnya hujan beristirahat sejenak, aku dan Novel lalu pulang dengan sedikit was-was. Dan setelah hari itu, kami tetap latihan-latihan-latihan-latihan-latihan-latihan-latihan-latihan-latihan.
  • Hingga akhirnya pementasan, semua tegang, aku jugalah, awalnya aku ikut bantu di backstage, tapi untuk penyemangat,  aku milih teriak-teriak gj di belakang penonton, bareng temen-temen lain, biar dikira drama kita heboh, akhirnya tekanan itu hilang, kami bebas, kami merdeka. Allhamdulillahnya lagi ini ga pas ujan. Coba aja kalo ujan, penonton pada ngacir semua pastinya. =..= 

  • Camping Ilmiah Seveners. Dilaksanakan sekitar bulan Maret 2011, acara camping bagi para anak kelas satu ini terasa sangat menyebalkan, udah tugas drama numpuk, pake ada acara pentas seninya lagi, DAMN, dimulai dengan TM yang ngaret, disitu dijelasin harus bawa apa aja, harus ngapain aja, dll, enggak lupa pembagian kelompok, aku dapet kelompok “calung rantai” bareng Shella (yee, ada temen deket), Hani (yee, temen sekelas), Intan Mila (yee temen akrab selama GTB, bisa masak lagi), Intan Nur (ketua kelompok), Vinda (yee, anak pecinta alam, setidaknya tahu gimana caranya ndiriin tenda), Icha (anak cheers, lumayan bisa bikin yel-yel), Tyas (suaranya menggelegar), itulah kelompokku. Hari keberangkatan kami ke Paliyan, Gunung Kidul, aku datang ke sekolah diantar Ayah, dengan barang bawaan yang bejibun di tas yang super gedhe (malah ada yg bilang kalo aku masuk ke tasku bisa muat) berat lagi. Di depan gerbang sekolah udah banyak yang dateng (sebenernya aku yg agak telat :p) aku turun dari motor agak terhuyung-huyung, tengok kiri-kanan, temenku mana????? akhirnya aku lihat Laras yg tinggi, aku yakin temen-temen pada di sana, benar dugaanku. Jejejeng, kami dipersilahkan masuk ke bis, aku yang juga gendong tas segedhe gaban berhasil mencapai bis dengan catatan waktu tercepat, langsung saja aku duduk di kursi belakang supir yang kebetulan dekat jendela aku, tak lupa pesanan teman-temanku yang ingin dipilihkan tempat duduk, lansung aku pesan beberapa kursi dibelakangku. Diperjalanan aku duduk bareng Novel dan Komang, sepanjang perjalanan kami satu bis bernyanyi dengan riang gembira, setelah perjalanan mulai menanjak kami terkesiap dengan pemandangan yang indah, sekali lagi aku mulai teriak kayak orang udik pas liat pemandangan, berhubung yang lain ikut-ikutan berati yang lain juga udik. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan, dan yang bikin parno adalah pak supirnya malah bilang gini, “eh mbak mas, kalo disini hati-hati ya, banyak penunggunya, jaga kelakuan ya”, sleeerp darah ditubuhku seakan tersedot keluar, dengan agak gugup aku dan teman-teman mengiyakan nasehat bapak supir yang notabene sudah lebih berpengalaman tentang tetekbengek Paliyan.
  • Di Paliyan kita langsung bikin tenda dan persiapan tetekbengek, terus dilanjutin acara masak, lomba kerajinan ama bakti desa. Yang ikut acra bakti desa si Intan Nur sama Tyas, Icha sama Vinda ikut lomba kerajinan, sisanya aku, Shella dan Intan Mila yang masak. Malam harinya kami dikumpulkan di lapangan tengah untuk acara jurit malam, eh pas mau berangkat si Icha malah sakit, ya udah dia ga ikut berpartisipasi. Ujan rintik-rintik mulai turun, pertamanya sihh masih nyante, lama-lama parno juga, udah kelompokku belum disebut lagi, yaudah aku tiduran dulu di kaki Meisa bareng ama Thya, kebetulan kelompok mereka sebelahku, jadi bisa numpang tidur gitu deh. “Ya, Calung Rantai silahkan menyusul rombongan.” Yeee, akhirnya. Kami pun berjalan cepat, walau begitu hujan masih saja turun, bahkan tambah deras, brrrr, dingin, lewat tengah sawah, hiii!. Terus ada peristiwa yang sangat aneh, sesampainya kami di pos kebudayaan tiba-tiba ada seorang bapak-bapak separuh baya yang datang mendekat aku kira cuma warga biasa yang kemaleman nyari warung, eh malah berhenti di pos kebudayaan dan ngajak salaman satu-satu (aku, kelompokku dan kakak kelas yang jaga pos), sialnya lagi waktu itu ga ada panitia cowo! ALAMAKKK, terus bapaknya nerocos bilang gini “Eh mbak, jangan jalan kesana ya, mbalik aja, di sana bahaya, jangan kepisah-pisah ya! Udah sekarang pada pulang ke bumi perkemahan, tapi lewat jalan yang tadi, jangan lewat jembatan itu ya.” lalu bapak-bapak itu pun jalan lagi. JLEB, apa maksudnya? tiba-tiba aja perutku kram, asem.  ya udah aku milih stay di pos. Kelompoknya Thya datang sejurus kemudian, nyapa aku juga dengan muka pucet, setelah aku critain yang barusan menimpa kelompokku, mereka satu kelompok juga jadi pucet (akhirnya nanti kelompokku tetep jalan lewat jembatan, tapi pada nundukin kepala ama komat-kamit, kalo kelompoknya Thya malah langsung milih lari tunggang langgang pas di jembatan). Akhirnya ada kakak kelas yang lewat, ya udah aku mbonceng motor deh, pas lewat jembatan yang dimaksud, brrrr, emang dingin. Malem itu aku ga tidur di tenda, aku disuruh tidur barak, yes Alhamdulillah, abis malem itu hujannya jadi deres.
  • Pagi harinya dengan muka teler, aku keluar barak terus mandi, sarapan bareng novel sama zuyina. abis itu naik gunung, widiuuu, pas naik ama turun aku gandengan sama Tyha, ga tahu kenapa kita kompak lemotnya waktu itu. Malem harinya acara pentas seni, agak gerimis sih, tapi SHOW MUST GO ON, aku dengan baju kebaya yang ahhh, super jibang warna pinknya thya yang ga muat, yang nyaris ga muat, karna bagian atasnya sempit. Kelasku dapat jatah peragaan busan jawa, waktu itu pasangannya acak, sa’ anane, aku kebetulan maju ke 3, pasanganku si Yudha, baru melangkah sejengkal, fans nya Yudha udah teriakkk, pada iri sama aku!😛. Sebelum kami maju kelas X.4 udah tampil duluan, mereka tampilnya keren banget, nyanyi-nyanyi gitu, kita semua yang lain kelas ikut larut dalam sorak-sorai X.4. Malam itu aku, Novel, Occa plus Shella emang udah ada niatan buat tidur di barak. Abis peragaan busan Novel ngeluh pusing yaudah dianter ke UKS, tapi dia ga mau tidur di barak UKS, dia lebih milih buat tidur di barak yang tadi (tepatnya barak MT Haryono, pas banget ama alamat sekolahku). Yaudah kita mutusin buat tidur cepet, sempet di suruh balik nonton pentas seni, tapi karena keadaan ga memungkinkan kita milih tidur. Tengah malem, banyak anak-anak yang ternyata nyusul ke barak, tapi sayang, malah diomelin sama panitia, berhubung aku, novel, occa, tambah kurni yang punya penyakit asma udah tidur, kita enggak di usir, seingetku ada panitia yang megang keningku, ngecek keadaan maksudnya. Ada temenku yang ampe mohon-mohon buat tidur di barak tetep ga di izinin, dengan terpaksa dia balik ke tendanya sendiri, di tengah hujan lebat Gunung Kidul yang tanpa penerangan pula (pasti serem banget ya tidur diluar).
  • Eh, tentu aja sepulang dari Paliyan aku dan teman-temanku punya cerita yang agak nyeremin, mulai dari aku yang salaman sama bapak-bapak ga jelas, temen kelas sebelah bahkan bilang kalo dia liat mbak-mbak di jembatan, padahal di jembatan itu ga ada orang. Waw. Lebih nyeremin lagi, rombongan kemah setelah sekolahku, maksudnya yang nyewa tempat sekolahku ada yang kesurupan, huh, alhamdulillah ga ada yang kesurupan pas kita kemah. OH IYA KELASKU JUARA 2 BUAT PENTAS SENI LHO. Seperti yang udah aku singgung, juaranya 1 jelas X.4 yang nyanyiannya menggugah kami semua.
Ya, acara sekolah memang terkadang menyebalkan, seabreg kegiatan yang bejibun itu kayak nimpa tubuh kita, di tempatku ad GTB, itu kayayak ospek versi SMAku, awalnya sebel banget sama panitia, eh ternyata setelah semua selesai aku kangen baget masa-masa penuh kepatuhan itu. Pokoknya semua hal yang terjadi dalam hidup kita itu adalah pembelajaran, ga peduli berapa jelek, bagus, nyeremin, nyenengin, dll. YEE, selain itu ikut acara model kayak gini banyak untungnya, terutama bahan pembicaraan di waktu-waktu yang akan datang, bahakan cerita horor pun sangat nikmat untuk disantap keesokan hari bersama teman-teman.
Oh iya, hitung aja berapa kali aku teriak di situ! aku alay ya? ga papa. Yang penting aku bahagia.😀

About yosweeta

I am a sweet little sanguine girl

2 responses »

  1. Re-Mon mengatakan:

    fotone ono obst’e hiiiiiiiiiiiiii

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s